Silatda FORKOMPASITA DIY di SMA IT Abu Bakar Yogyakarta

logo forkompasita pth ye pk
Pertemuan FORKOMPASITA (Forum Komunikasi Perpustakaan Sekolah Islam Terpadu Indonesia) DIY dalam rangka Silaturrahmi Daerah (Silatda) yangberlangsung pada hari Sabtu, 12 desember 2015 kemarin sangat luar biasa. Hujan deras yang mengguyur Jogja tak menghalangi langkah dan tiada menggoyah semangat para pengelola perpustakaan SIT (Sekolah Islam Terpadu) se-DIY untuk datang ke SMAIT Abu Bakar Yogyakarta. Dari penjuru Sleman, Gunungkidul, Bantul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta datang untuk pertemuan ini. Bukti militansi dan semangat yg luar biasa dari para pengelola perpustakaan SIT se-DIY.


Pertemuan ini sendiri merupakan pertemuan lanjutan dari pertemuan 2 minggu sebelumnya di Perpustakaan Daarul Hikmah SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta. Pada pertemuan itu, pengurus FORKOMPASITA kembali menguatkan komitmen untuk menggerakkan kembali roda keorganisasian FORKOMPASITA ini. Kenapa demikian? Karena beberapa saat yang lalu FORKOMPASITA sempat vakum dikarenakan beberapa hal.

Alhamdulillah… pertemuan di SMAIT Abu Bakar ini kembali menguatkan langkah kami untuk kembali nguri-nguri FORKOMPASITA ini. Dari pertemuan ini dihasilkan sebuah kepanitiaan yang akan mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan Musyawarah Daerah (Musyda) FORKOMPASITA DIY pada bulan Februari 2016, Insyaa Allah..

Harapan kami, FORKOMPASITA DIY bisa menjadi sebuah organisasi yang bisa mewadahi dan memfasilitasi aktualisasi diri pustakawan SIT di DIY ini, serta bisa turut serta mendorong kemajuan perpustakaan SIT di DIY ini. Serta bisa bersinergi dengan seluruh stakeholder dan lembaga terkait. Juga dengan seluruh organisasi kepustakawanan yang ada di DIY, seperti IPI, ATPUSI, FPSI, Himpusma, serta IGPM untuk bersama-sama memajukan dunia perpustakaan di DIY.

Selain itu, tertanam sebuah cita-cita besar bahwa nantinya FORKOMPASITA DIY ini akan menjadi embrio bagi lahirnya FORKOMPASITA yang lain di seluruh penjuru nusantara. Karena saat ini, di bawah JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) Indonesia, baru ada satu organisasi perpustakaan yang menjadi wadah perpustakaan dan pustakawan Sekolah Islam Terpadu (SIT), yaitu Forum Komunikasi Perpustakaan Sekolah Islam Terpadu Indonesia atau FORKOMPASITA, yang memang baru ada di DIY. Bismillah…

Salut! In syaa Allah FORKOMPASITA DIY ke depan akan semakin baik bersama mereka.

Iklan

sofware perpustakaan

Untitled.png

Dalam dunia teknologi informasi kita sering mendengar kata software. Sebenarnya apa sih software itu? Ada yang mengatakan bahwa tanpa software, maka suatu komputer tidak dapat digunakan atau dioperasikan

Software adalah perangkat lunak. Karena disebut juga sebagai perangkat lunak, maka sifatnya pun berbeda dengan hardware atau perangkat keras, jika perangkat keras adalah komponen yang nyata yang dapat diliat dan disentuh oleh secara langsung manusia, maka software atau Perangkat lunak tidak dapat disentuh dan dilihat secara fisik, software memang tidak tampak secara fisik dan tidak berwujud benda namun  bisa untuk dioperasikan.

Pengertian Software komputer adalah sekumpulan data elektronik yang disimpan dan diatur oleh komputer, data elektronik yang disimpan oleh komputer itu dapat berupa program atau instruksi yang akan menjalankan suatu perintah. Melalui sofware atau perangkat lunak inilah suatu komputer dapat menjalankan suatu perintah

sedang perpustakaan dapat diartikan secara luas sebagai salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis, untuk dipergunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan

Ketika perpustakaan memutuskan untuk menerapkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi tentu alasan utamanya adalah tercapainya misi utama perpustakaan, yaitu “Menyediakan Layanan Terbaik untuk Kepuasan Pengguna”. karena itu Software  Perpustakaan telah menjadi kebutuhan bagi pengelola perpustakaan untuk manajemen  data pustaka dan pencarian data pustaka.

diantara sofware  gratis itu adalah

A. SLIMS (Senayan Library Management System)

  1. slim 8 https://www.facebook.com/download/912445578810613/slims8-akasia.tar.gz
  2. slim 7 http://slims.web.id/download/slims7-cendana-stable-update1.zip
  3. slim 5 http://github.com/slims/slims5_meranti 

B. ATHENAEUM Series

  1. Athe 6 https://www.facebook.com/download/455633624550374/athenaeum%20light%206.zip
  2. Athe 10 https://www.facebook.com/download/236177026537459/athlight10win.zip.001 tutorial https://www.facebook.com/download/549627818439390/athlight_ultra_quick_start.pdf untuk update sofware  http://www.sumware.net/ath/light/

C. CDS/ISIS (WINISIS)

selamat mencoba…

salam forkomposasita diy

Ibnu Haitham


Islam sering kali diberikan gambaran sebagai agama yang mundur dan memundurkan. Islam juga dikatakan tidak menggalakkan umatnya menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.
Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang sangat hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.
Walaupun tokoh itu lebih dikenali dalam bidang sains dan pengobatan tetapi dia juga memiliki kemahiran yang tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan sebagainya. Salah seorang daripada tokoh tersebut ialah Ibnu Haitham atau nama sebenarnya Abu All Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham.
Namanya adalah Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham (Bahasa Arab: ابو علی، حسن بن حسن بن الهيثم) atau Ibnu Haitham (Basra,965 – Kairo 1039), dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Roger Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop juga kamera obscura.
Dalam kalangan cerdik pandai di Barat, beliau dikenali dengan nama Alhazen. Ibnu Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354H bersamaan dengan 965 Masehi. Ia memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya. Setelah beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan menumpukan perhatian pada penulisan.
Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar.
Hasil daripada usaha itu, beliau telah menjadi seo­rang yang amat mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, pengobatan, dan falsafah. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Malahan kajiannya mengenai pengobatan mata telah menjadi asas kepada pengajian pengobatan modern mengenai mata.

Karya dan Penelitian

  • Peletak dasar penciptaan kamera
    Prinsip-prinsip dasar pembuatannya telah dicetuskan oleh al-Haitham seorang sarjana Muslim, sekitar 1.000 tahun silam, tepatnya pada akhir abad ke-10 M.
    Diakui atau tidak kamera merupakan salah satu penemuan dan karya manusia yang terbilang sangat fenomenal. Melalui kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi kamera kini dikuasai Jepang dan negara Barat.
    Istilah kamera obscura yang ditemukan Al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 M – 1630 M). Terinspirasi kamera obscura dari Al-Haitam, pada tahun 1827 Joseph Nicephore Niepce di Prancis mulai menciptakan kamera permanen. Sekitar 60 tahun kemudian George Eastman lalu mengembangkan kamera yang lebih canggih pada zamannya. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.
    Penemuan kamera obscura berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”
    “Kamera obscura pertama kali dibuat oleh ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),”ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.
    Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, al-Haitham lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.
    Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lubang bidik lensa dengan lensa (camera). Penggunaan lensa pada kamera obscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Joseph Kepler (1571 – 1630 M), meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip ini digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham, pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura.
    Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827. Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Haitham dengan baik sekali dan George Eastman lah yang menciptakan kamera kodak. Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.
    Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada al-Haitham, yang selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan Muslim.
    Secara serius al-Haitham mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen – begitu dunia Barat menyebutnya – juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Al-Haitham pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.
  • Menggambar Diagram Mata Secara Detail
    Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika ‘Bapak Optik’ dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, al-Haitham mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat. Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, al-Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat. .
    Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian al-Haitham itu kemudian dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.
  • Dalam Bidang Sains Lainnya
    Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemui prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan yang bernama Trricella yang mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah menemukan kewujudan tarikan gravitasi sebelum Issaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Hai­tham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat pada masa kini.
    • Dalam Bidang Filsafat
    Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logika, metafizika, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu.
    Penulisan falsafahnya banyak bertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Beliau juga berpendapat bahawa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang telah ada. Jadi, pandangannya mengenai falsafah, amat menarik untuk disoroti.
    Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan daripada matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan masa mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

Sumbangan Ibnu Haitham

  • Teori Hukum Pembiasan (fenomena atmosfera)
    Selama di Spanyol, Ibnu Haitham melakukan beberapa penyelidikan dan percobaan ilmiah berhubungan dengan bidang optik. Penemuannya yang terkenal ialah “hukum pembiasan”, yaitu hukum fisika yang menyatakan bahwa sudut pembiasan dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk. Menurut pengamatan Ibnu Haitham, beliau berpendapat bahwa cahaya merah di kaki langit di waktu pagi (fajar) bermula ketika matahari berada di 19 derajat di bawah kaki langit. Sementara cahaya warna merah di kaki langit di waktu senja (syuruk) akan hilang apabila matahari berada 19 derajat di bawah kaki langit selepas jatuhnya matahari. Dalam fisika moden, hukum ini dikenali dengan nama “hukum pembiasan Snell” yang bersempena nama ahli fisika Belanda, Willebrord van Roijen Snell.
  • Teori Penglihatan (optik)
    Dengan menggunakan kaedah matematik dan moden fizik yang baik beliau dapat membuat eksperimen yang teliti, Ibnu Haitham telah meletakkan optik pada batu asas yang kukuh. Beliau telah menggabungkan teori dan eksperimen dalam penyelidikannya. Dalam penyelidikan, beliau telah mengkaji gerakan cahaya, ciri-ciri bayang dan imej dan banyak lagi fenomena optik yang penting. Beliau telah menolak teori Ptolemy dan Euclid yang mengatakan bahwa manusia melihat benda melalui pancaran cahaya yang keluar dari matanya. Tetapi menurut Ibnu Haitham, bukan mata yang memberikan cahaya tetapi benda yang dilihat itulah yang memantulkan cahaya ke mata manusia.
  • Cermin Kanta Cekung Dan Kanta Cembung
    Ibnu Haitham telah menggunakan mesin lathe (larik) untuk membuat cermin kanta cekung dan kanta cembung untuk penyelidikannya. Dengan ini beliau telah mengkaji tentang cermin sfera dan cermin parabolik. Beliau mengkaji Aberasi Sfera dan memahami bahwa dalam cermin parabola kesemua cahaya dapat tertumpu pada satu titik.
  • Teori Biasan Cahaya
    Teori ini agak mengagumkan, beliau telah menggunakan segi empat halatuju pada permukaan biasan beberapa abad sebelum Isaac Newton memperkenalkannya di dunia Barat. Beliau juga percaya kepada prinsip masa tersingkat bagi rentasan cahaya (Prinsip Fermat).
  • Bidang Filsafah, Ibnu Haitham telah disenaraikan diantara salah seorang ahli falsafah Aristo. Dikalangannya adalah sahabat beliau yaitu Ibnu Sina dan al-Biruni. Ibnu Haitham mendahului Kant lebih tujuh abad lamanya. Teori yang dilebalkan dari Kant sebenarnya datang dari beliau yaitu: “bahwa untuk mencapai kebenaran hendaklah dengan mengetahui pendapat-pendapat yang berunsur kepada kenyataan yang dapat digambarkan dengan akal rasional”.
  • Bidang Astronomi, Beliau melanjutkan pendapat ilmuwan Yunani tentang proses pengubahan langit abstrak menjadi benda-benda padat. Dalam karya astronominya, beliau melukis gerakan planet-plenet, tidak hanya dalam terma eksentrik dan episiklus, tetapi juga dalam satu model fizik. Pendapatnya banya mempengaruhi Dunia Pemikiran Barat pada zaman Johannes Kepler. Tiga abad kemudian karya ini ditukar dalam bentuk ikhtisar oleh astronomi muslim yaitu Nasiruddin at-Tusi.
  • Bidang Fisika, Dalam bidang fisika Ibnu Haitham telah mengkaji tentang gerakan yang membawa beliau menemui prinsip intersia dan statik. Beliau telah mengasaskan dan menjadikan optik menjadi satu sains baru. Banyak kajian beliau telah mendahului dan diikuti oleh Francis Bacon,Leonardo da Vinci, dan Johannes Kepler.

Karya
Ibnu Haitham membuktikan pandangannya apabila beliau begitu bergairah dalam mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada masa mudanya, sehingga kini beliau berjaya menghasilkan banyak buku dan makalah. Buku-buku karyanya antara lain:

  • Al’Jami’ fi Usul al’Hisab, yang mengandungi teori-teori ilmu metametika dan metametika penganalisaannya;
  • Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib, mengenai ilmu geometri;
  • Kitab Tahlil ai’masa^il al ‘Adadiyah, tentang algebra;
  • aqalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah, yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau;
  • Maqalah fima Tad’u llaih, mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak
  • Risalah fi Sina’at al-Syi’r, mengenai teknik penulisan puisi.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah amat banyak. Kerana itulah Ibnu Haitham dikenal sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan, hingga saat ini.
Walau bagaimanapun sebahagian karyanya lagi telah “dicuri” oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan yang patut kepada beliau. Tapi sesungguhnya, barat patut berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka kemungkinan dunia Eropa masih diselubungi kegelapan.
Ibnu Haitham dihargai sebagai ilmuwan optika terbesar sepanjang abad, sejajar dengan Ptolemeus dan Witelo yang menjadi perintis ilmu optika dunia. Berkat pemikiran-pemikirannya lah maka ilmu optika mencapai taraf kemajuan yang mencengangkan. Terutama di abad milenium, ketika benda-benda optika tak terpisahkan dari kebutuhan hidup manusia modern. Ibnu Haitham meninggal di Kairo, Mesir, pada tahun 1039.

Al Razi (865-925)

Al Razi

 Sang Kimiawan

Salah satu ilmuwan muslim yang pernah hidup adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Beliau lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Di awal kehidupannya, al-Razi begitu tertarik dalam bidang seni musik. Namun al-Razi juga tertarik dengan banyak ilmu pengetahuan lainnya sehingga kebanyakan masa hidupnya dihabiskan untuk mengkaji ilmu-ilmu seperti kimia, filsafat, logika, matematika dan fisika.

Walaupun pada akhirnya beliau dikenal sebagai ahli pengobatan seperti Ibnu Sina, pada awalnya al-Razi adalah seorang ahli kimia.? Menurut sebuah riwayat yang dikutip oleh Nasr (1968), al-Razi meninggalkan dunia kimia karena penglihatannya mulai kabur akibat ekperimen-eksperimen kimia yang meletihkannya dan dengan bekal ilmu kimianya yang luas lalu menekuni dunia medis-kedokteran, yang rupanya menarik minatnya pada waktu mudanya.? Beliau mengatakan bahwa seorang pasien yang telah sembuh dari penyakitnya adalah disebabkan oleh respon reaksi kimia yang terdapat di dalam tubuh pasien tersebut. Dalam waktu yang relatif cepat, ia mendirikan rumah sakit di Rayy, salah satu rumah sakit yang terkenal sebagai pusat penelitian dan pendidikan medis.? Selang beberapa waktu kemudian, ia juga dipercaya untuk memimpin rumah sakit di Baghdad..

Beberapa ilmuwan barat berpendapat bahwa beliau juga merupakan penggagas ilmu kimia modern. Hal ini dibuktikan dengan hasil karya tulis maupun hasil penemuan eksperimennya.

Al-Razi berhasil memberikan informasi lengkap dari beberapa reaksi kimia serta deskripsi dan desain lebih dari dua puluh instrument untuk analisis kimia. Al-Razi dapat memberikan deskripsi ilmu kimia secara sederhana dan rasional. Sebagai seorang kimiawan, beliau adalah orang yang pertama mampu menghasilkan asam sulfat serta beberapa asam lainnya serta penggunaan alkohol untuk fermentasi zat yang manis.

Beberapa karya tulis ilmiahnya dalam bidang ilmu kimia yaitu:

  1. Kitab al Asrar, yang membahas tentang teknik penanganan zat-zat kimia dan manfaatnya.
  2. Liber Experimentorum, Ar-Razi membahas pembagian zat kedalam hewan, tumbuhan dan mineral, yang menjadi cikal bakal kimia organik dan kimia non-organik.
  3. Sirr al-Asrar:
  4. Imu dan pencarian obat-obatan daripada sumber tumbuhan, hewan, dan galian, serta simbolnya dan jenis terbaik bagi setiap satu untuk digunakan dalam rawatan.
  5. Ilmu dan peralatan yang penting bagi kimia serta apotek.
  6. Ilmu dan tujuh tata cara serta teknik kimia yang melibatkan pemrosesan raksa, belerang (sulfur), arsenik, serta logam-logam lain seperti emas, perak, tembaga, timbal, dan besi.

Menurut H.G Wells (sarjana Barat terkenal), para ilmuwan muslim merupakan golongan pertama yang mengasas ilmu kimia. Jadi tidak heran jika sekiranya mereka telah mengembangkan ilmu kimia selama sembilan abad bermula dari abad kedelapan masehi.

Salam Forkompasita DIY

PP No.24 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan UU No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

Akhirnya penantian panjang sekitar 8 tahunan menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah mengenai pelaksanaan UU No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan telah berakhir. Kini PP yang mengatur tentang pelaksanaan Undang-undang perpustakaan tersebut telah terbit dengan No.24 Tahun 2014. PP ini telah disahkan oleh Presiden RI pada tanggal 14 April 2014.

pp-no-24-th-2014-pelaksanaan-undang-undang-nomor-43-tahun-2007-tentang-perpustakaan-1-638.jpg

PP No.24 Tahun 2014 ini terdiri dari 9 bab dan 89 pasal. Bab tersebut meliputi:
Bab I: Ketentuan Umum
Bab II: Pendaftaran Naskah Kuno
Bab III: Penghargaan Naskah Kuno
Bab IV: Standar Nasional Perpustakaan
Bab V: Penyimpanan dan Pengunaan Koleksi Khusus
Bab VI: Dewan Perpustakaan
Bab VII: Penghargaan Pembudayaan Kegemaran Membaca
Bab VIII: Kewajiban Penyelenggara Perpustakaan
Bab IX: Ketentuan Penutup
Terkait hal itu saya ingin menyoroti secara khusus tentang perkembangan perpustakaan umum yang ada di propinsi maupun kabupaten / kota. Pada pasal 80 tentang penyelenggara perpustakaan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, point (b) berbunyi bahwa:

“Menjamin ketersediaan  layanan perpustakaan secara merata di wilayah masing-masing|”

Jika ini tidak dilaksanakan, maka akan dikenai sanksi administratif seperti yang tertera pada pasal 81 berupa teguran lisan, teguran tertulis dan pemberhentian bantuan pembinaan.

Untuk sanksi kepada penyelenggara perpustakaan provinsi diberikan oleh gubernur berdasarkan pertimbangan dari Kepala Perpustakaan Nasional. Sedangkan sanksi kepada penyelenggara perpustakaan kabupaten/kota diberikan oleh bupati/walikota dengan berdasarkan pada pertimbangan dari kepala perpustakaan provinsi.

Sekilas jika kita melihat kasus diatas, maka disini ada jenjang hirarki yang jelas dimana Kepala Perpustakaan Nasional ikut andil bersama gubernur, bupati dan walikota terhadap perkembangan perpustakaan umum yang ada di Indonesia. Semoga ini bisa berjalan sesuai yang di harapkan.

Pada pasal 83 point (f), juga menarik untuk di analisis. Pengalokasian dana paling sedikit 5% (lima persen) dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal ini apakah kenyataanya sudah mulai banyak diterapkan? Semoga dengan adanya PP ini bisa menjadi dasar hukum kekuatan tetap untuk mengembangkan perpustakaan di sekolah-sekolah yang notabene “mati segan hidup pun tak mau”.

Sekarang kita tinggal menunggu penanganan sanksi administratif seperti apa yang akan diterapkan karena sejatinya pemberian sanksi tersebut akan diatur dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional seperti yang tersirat dalam pasal 88.

Masih banyak dalam PP tersebut yang perlu di diskusikan misalnya kriteria pemilihan kepala perpustakaan, prosedur dan standar teknis perpustakaan, dewan perpustakaan dan alokasi anggarannya, pengembangan perpustakaan umum berdasarkan kekhasan daerah, penghargaan terhadap taman bacaan masyarakat (TBM) / rumah baca dan lain sebagainya. Saya percaya, Perpustakaan Nasional RI pasti akan menjadwalkan sosialisasi tentang PP yang baru tersebut sesuai kapasitasnya sebagai pembina perpustakaan di seluruh Indonesia

Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 2014tentang Pelaksanaan Undang-Undang nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan atau unduh di http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/174060/PP%20Nomor%2024%20Tahun%202014.pdf

salam forkompasita

Ilmuwan dan Tokoh Sains Muslim

ibnrushd

Allah SWT menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril dengan berkata “Iqra!”, pada ayat pertama di dalam Al-Qur’an. Iqra bukan hanya berarti “bacalah”, namun juga berarti “belajarlah”.
Begitu Maha Segalanya Allah SWT, hingga menurunkan satu kalimat pertama dalam wahyu-Nya yang ternyata mempunyai arti dan makna yang sangat berguna sekali bagi kelangsungan kehidupan manusia Bumi di kemudian hari.

Bagaimana mungkin seorang Muhammad membaca? Beliau adalah seorang buta huruf. Beliau bukan seorang ilmuwan. Beliau bukanlah seorang pengarang. Dan, Al-Qur’an tidak diwahyukan secara berurutan. Namun sesuai kejadian-kejadian yang dialami oleh beliau.
Selama diwahyukan, Al-Qur’an tidak diturunkan berdasarkan ayat demi ayat yang berurutan, selalu acak, beda surah, beda ayat, beda kota, beda keadaan.

Kemudian dihafalkannya beserta semua sahabatnya agar tidak saling lupa. Namun ketika tiap ayat di Al-Qur’an yang telah diwahyukan tersebut disusun, ternyata menjadi beraturan.
Itulah salah satu kitab Ilahi yang sempurna, mukzizat yang tiada duanya karena tidak hanya dapat dinikmati oleh Rasul dan kaum di zamannya, namun oleh segenap umatnya hingga akhir zaman (for all mankind).

Di dalam Islam, ada tiga pilar yang harus dikerjakan untuk menjadi manusia yang selalu bertaqwa dan berbudaya dengan baik. Yaitu, percaya kepada Allah, menggali ilmu (ilm), dan mencintai sesama manusia.

Islam sering kali diberikan gambaran oleh orang-orang dan golongan yang tidak pernah mengenalnya sebagai agama yang mundur dan memundurkan.
Islam juga dikatakan tidak pernah menggalakkan umatnya untuk menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu pengetahhuan.

Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi justru bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.
Sejarah adalah fakta, dan fakta adalah sejarah. Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam berbagai bidang keilmuwan.

Pada masa lalu dan memang sudah ajaran Islam, bahwa jika seseorang menemukan alat atau apapun yang belum ada manusia yang menciptakannya, maka wajiblah baginya untuk menyebarkan hasil temuannya itu. Menyebarkannya kepada umat manusia agar mereka semakin dapat mempermudah pekerjaannya dan menjadikan mereka semakin bersyukur kepada Allah.

Mereka tidak menuntut satu apapun, termasuk “hak paten” atau “upeti” lainnya akibat temuannya tersebut.

Dan dari orang-orang baratlah ilmu-ilmu itu kemudian dicuri, lalu dipatenkan atas nama mereka masing-masing untuk mencari keuntungan. Banyak sekali penemuan-penemuan dari kebudayaan Islam yang tak tercatat sejarah.

Misalkan, di antaranya adalah keilmuwan dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, astronomi dan sebagainya.

Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi mereka juga menguasai keilmuwan tersebut dalam masa yang singkat dan dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan

Naaaaah… siapa saja Ilmuwan dan Tokoh Sains Muslim itu……?

Nantikan episode yang akan datang.. ^_^

Salam Forkompasita